Kalau Burung Berhenti Suara Dan Turun Tangkringan

Banyak sekali bahu-membahu penyebab burung turun dari tangkringan ketika ditandingkan.

Penyebab tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua, fisik dan psikis.

Fisik

Secara fisik ialah kondisi lelah. Burung lelah (atau tidak sedang dalam kondisi top performance) hanya berpengaruh berkicau sebentar dan sehabis itu sama sekali tidak mau berkicau. Atau turun sebentar lalu berkicau lagi. Sebentar atau lama, kondisi burung ibarat itu sudah mengurangi evaluasi dalam lomba.

Berkaitan dengan hal itu, kalau Anda membawa burung ke lomba pastikan bahwa beliau dalam kondisi fisik yang prima. Jangan pernah hanya mencoba-coba lantaran biasanya akan berbuntut kecewa.

Sedang kelelahan itu sendiri dapat majemuk sebabnya. Ada lelah semenjak dari rumah, dapat saja lelah lantaran usang di perjalanan atau usang menunggu giliran jam lomba. Sementara menunggu itu, biasanya burung terus berkicau. Nah ketika masa tanding tiba, beliau tinggal membawa sedikit tenaga.

Psikis (mental)

Kalau kondisi fisik lebih gampang diantisipasi, maka kondisi psikis (mental) sulit diprediksi. Apapun penyebabnya kondisi psikis (mental) ialah lantaran suatu keadaan tertentu di lingkungan daerah diadakan lomba. Antara lain:

1. Suara dari penonton.

Dalam suasana lomba yang penuh teriakan dan bunyi gedombrengan serta peluit bersahut-sahutan, banyak burung yang terus nancep dan nagen (berkicau dengan gaya dan volume stabil tidak terputus). Tetapi lebih banyak yang berhenti (sebentar atau lama) dan malah ada juga yang turun dari tangkringan.

Lomba Burung Berkicau Polder Air Hitam Samarinda Suara penonton dapat mengakibatkan burung yang kurang terlatih drop mental

Kita mungkin tidak dapat membedakan jenis bunyi satu peluit dengan peluit lainnya, teriakan satu orang dengan orang lainnya, gedombrengan seng ataupun gedombrengan besi yang dipukul-pukulkan ke kayu atau dipukulkan ke bambu. Tetapi burung niscaya mempunyai pendengaran yang lebih peka, dan dapat membedakan adanya suara-suara yang tiba-tiba terasa absurd baginya yang bagi indera pendengaran manusia, ya nyaris sama saja.

Itulah sebabnya mengapa ada burung yang tiba-tiba berhenti berbunyi begitu mendengar bunyi tertentu. Bisa hanya sebentar, dapat usang dan bisa-bisa cuma celingukan terus seolah-olah mencari bunyi yang absurd bagi dirinya hingga lomba berakhir. Yah, jebloklah hasilnya.

Jika hal itu yang terjadi, pastilah sulit bagi kita untuk mencarikan solusi yang sempurna lantaran kita sendiri tidak tahu persis bunyi apa yang menarik perhatian burung kita sampai-sampai cuma melamun dan tidak mau lagi bunyi.

2. Suara / tembakan burung lain.

Hampir sama dengan kasus bunyi dari penonton ialah bunyi dari burung lain yang dapat menjadi penyebab berpengaruh burung kita berhenti berbunyi.

Burung samyong Suara tembakan burung lain dapat mengakibatkan burung di sampingnya terdiam.

Seketika diturunkan, dapat jadi burung kita eksklusif tancep. Tetapi di tengah jalan, tiba-tiba ada tembakan atau bunyi ngerol dari burung lain yang terdengar absurd baginya. Ketika burung kita berhenti berbunyi, dapat saja lantaran takut, tetapi lebih banyak disebabkan ingin mendengarkan untuk ditirukan. 

Untuk burung yang cerdas menangkap dan akil meniru, kadang meskipun beliau belum pernah menyuarakan lagu/tembakan tertentu, begitu mendengar burung sampingnya memperdengarkan lagu tertentu, eksklusif ditirukan bahkan kadang lebih nyaring dan lebih panjang. Dalam perburungan, inilah apa yang disebut dengan istilah numpangi (yakni burung menirukan secara lebih keras atau lebih panjang suara/lagu burung lainnya yang seketika itu didengarnya).

Celakanya, kalau burung kita memang bukan tipe peniru yang cepat (bukan berarti tidak cerdas loh), maka yang terjadi ialah mandek bunyi. Ya, seolah-olah terkagum-kagum dan cuma mendengarkan ibarat kalau kita mendengarkan bunyi merdunya penyanyi pujaan kita (bahkan kalau kita tidak hanya diam, tetapi sambil merem-melek…kalau kebablasan malah ketiduran hehehe).

3. Melihat benda asing

Sama dengan poin nomer 1, banyak burung yang tidak merasa absurd melihat topi, baju warna-warni, kain spanduk, bendera dan lain-lainnya dikibar-kibarkan ketika beliau berkicau. Tetapi, dapat jadi ada satu dua yang tiba-tiba berhenti berkicau begitu ada yang mengacung-acungkan sepatu (moga-moga nggak dilemparkan ke juri hehehe), helm, kerodong batik motif tertentu, atau apa saja yang menurutnya asing. Benda absurd dapat hanya menarik perhatian si burung, dapat juag mengakibatkan burung takut. Akibatnya sama saja, nilai jeblok kalau hingga burung berhenti berkicau.

Termasuk benda absurd (yang mengejutkan burung atau menarik perhatian burung) ialah daun yang tiba-tiba melayang-layang dekat sangkar, atau air yang tiba-tiba menentes dari terpal lantaran lomba digelar sehabis hujan, dan sebagainya dan sebagainya.

Kalau hal itu yang terjadi, ya sulit pula bagi kita untuk mengatasinya di lain kesempatan lantaran (celakanya) burung nggak pernah dapat kisah ke kita, tetapi kita dapat marah-marah sambil mencaci maki si burung….

4. Melihat majikan / orang yang biasa merawatnya.

Ada burung yang mandek bunyi secara tiba-tiba begitu melihat si majikan atau orang yang biasa merawatnya. Ini biasanya terjadi pada anis merah (AM). Tetapi ada juga burung lain yang punya kebiasaan “sok akrab” juga “sok manja” ibarat itu. Kalau ada burung berkarakter ibarat ini, ya ngumpetlah atau berkerodong sarung saja si majikan atau yang biasa ngrawat ketika mengawal burung bertanding hehehe.

5. Perubahan kandang / tangkringan.

Banyak burung yang diubah/ganti kandang ketika lomba, dari kandang harian ke kandang lomba. Kalau ukuran (diameter) tangkringan tidak sama, kadang mengakibatkan burung tidak enjoy. Dan begitu mencicipi ketidaknyamanan ketika berkicau kanan-kiri, dapat saja tiba-tiba berhenti berkicau dan turun dari tangkringa. Antispasinya, ya gunakan kandang lomba yang besarannya hampir sama dengan kandang harian dan juga tangkringannya berdiameter sama dengan tangkringan di kandang lomba. Atau kalau kandang harian dan lomba memang sama ukuran, maka sekaligus saja tangkringan harian dipindah ke kandang lomba.

6. Ada pakan (voer / jangkrik dll) tercecer di dasar sangkar.

Pakan yang tercecer di dalam kandang ketika burung akan digantangkan di lomba / latber harus dibersihkan. Sebab banyak terjadi kasus burung turun dari tangkringan ketika melihat ada sisa pakan yang ada di bawah sangkar.

Cara “sok pintar” mengatasi burung turun dari tangkringan

Banyak cara yang diusahakan supaya burung tidak turun dari tangkringan. Salah satunya ialah memasang karet pentil bersilang2 di dasar sangkar. Harapannya, burung tidak merasa enjoy untuk turun dan karenanya memperkecil kemungkinan burung turun dari tangkringan.

Cuma masalahnya, kalau burung berhenti bunyi lantaran faktor2 di atas, maka meskipun beliau tidak turun dari tangkringan, ya nilainya tetap buruk di tamat lomba.

Ketika burung branjangan masih banyak dilombakan, salah seorang pemain branjangan Jogja pernah punya cara mencegah burung turun dari kerikil apung daerah beliau nangkring. Yakni dengan cara memasukkan air ke belahan dasar kandang yang dibentuk secara khusus (sehingga tidak bocor). Hal itu ternyata efektif. Namun semuanya tidak dicobakan seketika dalam lomba itu lantaran dalam rawatan harian pun sering dilakukan pengisian air tersebut sehingga branjangan pun terbiasa menghadapi limpahan air di sangkarnya.

Tulisan ini memang tidak secara spesifik menulis mengenai cara-cara mencegah burung berhenti bunyi ketika bertanding di lapangan. Namun dengan menggembarkan banyak sekali kemungkinan mengenai penyebab burung berhenti bunyi ketika tanding, kita dapat melaksanakan sejumlah antisipasi.

Terapi Ranjau bola untuk kacer yang sering turun tangkringan.

Untuk antisipasi kondisi fisik tentunya hanya melombakan ketika burung berada dalam kondisi top performace. Atau juga tidak membawa masuk dulu ke wilayah lomba sebelum kegiatan tanding burung yang diikutkan itu dimulai. Dan banyak sekali upaya supaya burung tidak dalam kondisi kehabisan stamina ketika bertanding.

Dan saya ingatkan lagi untuk membaca dilema apa yang saya sebut sebagai aliran umum dalam merawat burung, yakni bahwa burung sehat niscaya bunyi. 

Sementara itu untuk antisipasi kondisi mental, maka perlu contohnya memperkenalkan banyak sekali jenis /bentuk bunyi tonjolan. Tujuannya bukan secara khusus untuk memaster, tetapi hanya supaya burung tidak absurd dengan banyak sekali warna dan ragam suara.

Selain itu juga tidak mengasingkan burung dari keramaian. Bahkan kalau perlu dibawa ke banyak sekali daerah dan suasana sebagai bentuk latihan supaya burung kita tidak “gumunan” (sedikit-sedikit heran melihat sesuatu yang baru).
loading...

Archive