Kenali Dan Hindari Burung Kena Doping

Telah menjadi belakang layar umum bahwa banyak kicauan yang masuk ke arena lomba dengan didoping terlebih dahulu. Mendoping burung ada yang memakai jenis-jenis obat/benda tertentu yang mengandung zat adiktif menyerupai halnya amfetamin, amobarbital, flunitrazepam, diahepam, bromazepam, fenobarbital, alkohol atau halusinogen. Atau, dulu sebelum jaman sabu-sabu populer, ada yang memakai beberapa bentuk meth dan kokain yang dikenal, misalnya, sebagai Crank, Speed, Bennies, Rock, Kristal, dan Crack. 

Pada awal 1990-an, satu bentuk metamfetamin dikenal sebagai Kristal Meth atau Ice, dan di Indonesia sebagai sabu-sabu. Sabu-sabu dua hingga tiga kali “lebih manjur” daripada sebagian besar amfetamin lain. Sabu-sabu membangkitkan secara dramatis ‘pasaran speed’. Dan inilah salah satu “doping” yang juga merambah dunia kicauan.

Eefek dari penggunaan sabu-sabu untuk kicauan memang luar biasa (BTW, soal cara, takaran dan sebagainya, tidak etis dan ilegal kalau dibahas berkelanjutan). AM yang kena sabu misalnya, sanggup teler 3-4 jam non stop kalau tidak diturunkan dan digubrak2 oleh majikannya.

Hal ini tidak mengherankan lantaran insan pengguna sabu-sabu saja mengaku sabu-sabu memperlihatkan mereka lebih banyak tenaga dan kekuatan, menciptakan mereka tahan tidak tidur selama 24 hingga 48, bahkan 72 jam. Mereka menyatakan juga sabu-sabu membantu mereka berpikir lebih jelas, dan menjadi lebih lihai dan sebagainya dan sebagainya.

Kapan doping diberikan ?

1. Burung yang didoping biasanya yaitu burung yang akan dilombakan.

Orang Solo, saya tidak perlu menyebut nama dan alamat persis ( lantaran kini yang bersangkutan juga sudah menjadi “TO” orang-orang kicauan yang menjadi korban ) selalu mendoping burung-burungnya yang akan dilombakan. Awalnya memang hanya sedikit. Tetapi dari yang sedikit-itu, lama-lama dosisnya harus ditambah.

Percaya tidak percaya, beliau hingga memperlihatkan satu butir pil ekstasi (saya tidak tanya jenis dan nama persisnya) ketika akan melombakan burungnya pada suatu ketika di masa lampau di Piala Kapolri (Semarang). Kebetulan, burung yang beliau doping dan dibawa ke lomba yang diadakan dua AK. Satu AK-nya menyabet juara II dan ketika itu laris dijual Rp 125 juta (ingat kan masa-masa keemasan AK?) Dan satu AK-lainnya, mati terkapar dengan paruh mengeluarkan buih sekitar 10 menit sesudah dicekoki pil setan. Jenazah AK dengan harga beli Rp 20 juta itu lantas dibuang begitu saja di daerah sampah.

Saat itu terjadi obrolan antara beliau dengan jokinya dalam bahasa Jawa, yang Indonesianya kira-kira begini:
  • “Wah…. bos, AK-nya mati,” seru si joki.
  • “He? Yang mana?,” sahut si bos.
  • “Si… ,” jawab si joki menyebut nama AK itu.
  • “Wah dosisnya kebanyakan,” komentar si bos yang terdengar tanpa rasa sesal.
  • “Saya kan sudah bilang, itu tadi kebanyakan bos,” sesak si joki.
  • “Lha gimana lagi, kalau menyerupai ukuran usang sudah nggak mau kerja lagi kok,“ si bos membela diri.
  • “La gimana ini?”
  • “Ya buang saja. Nanti kalau AK yang satu mau kerja, dijual aja. Soalnya dosisnya juga sudah harus banyak,” kata si bos.

Dari obrolan itu jelas-jelas tergambar bahwa AK yang didoping, makin hari harus semakin banyak takaran doping yang harus diberikan supaya sanggup “kerja” menyerupai sebelum-sebelumnya.

2. Burung yang akan dijual

Doping juga diberikan untuk burung yang akan dijual dan biar terlihat luar biasa ketika dipantau calon pembeli. Burung yang biasa tampil bagus, kadang kala banyak polah lantaran sedang birahi memuncak. Burung birahi memang anggun disebabkan oleh lantaran birahinya itulah burung gacor berkicau. Tetapi supaya tidak banyak ulah dan pribadi tokcer ketika mau dipantau calon pembeli dan akan segera ditransaksikan, ada penjual yang tega mendoping si burung.

Mengenali burung dopingan

1. Burung dopingan terlihat menyerupai burung sakit ketika dampak doping melemah. 

Bulu mekruk tidak rapi. Dalam kondisi yang belum terlalu sakaw dan masih besar lengan berkuasa bunyi, beliau biasanya mengeluarkan suara ciap, atau krek atau apalah yang sangat monoton tapi keras dan khas dengan interval 1-2 menitan.

Jika tidak “dibantu” oleh doping lagi, kondisinya benar-benar sakit dan benar2 terlihat menyerupai burung sakit yang megap-megap atau terengah-engah.

Efek kontribusi doping untuk burung yang gres sekali-dua kali kena doping biasanya bertahan hingga 3-4 hari. Untuk burung yang terbiasa doping, 1-2 hari. Dan untuk “meningkatkan daya tahan” hingga 3-4 hari atau lebih, takaran doping ditambah.

2. Burung dopingan, meski terlihat sehat dan gacor, terlihat basah di kelopak mata belahan bawah.

3. Burung dopingan, meski terlihat sehat dan gacor, kaki atau sayap sering terlihat bergetar.

4. Burung dopingan, meski terlihat sehat dan gacor, tidak memperlihatkan rasa tertarik akan datangnya burung lawan jenis.

Memulihkan burung dopingan

Kalau kebetulan Anda terjerumus dan telanjur membeli burung dopingan ( kelihatan sakit tetapi tidak juga cepat mati dan tidak juga sembuh meski sudah diberi obat2an, entah itu antibiotik atau hanya sekadar vitamin/suplemen dsb ) maka ya nasib….Mengapa ?

Secara umum, burung yang sudah kena doping sulit untuk dipulihkan kembali lantaran doping sendiri sifatnya adiktif, menciptakan kecanduan dan menciptakan ketergantungan. Logikanya, kalau mau menyembuhkan ya diberi lagi doping dengan secara perlahan dikurangi dosisnya. Tetapi, darimana mendapatkannya ? Alih-alih kondisi burung sanggup pulih, Anda malah sudah ditangkap polisi lantaran membeli benda terlarang.

Kalau belum sedemikian parah kondisi ketergantungan si burung ( mungkin hanya diberi sekali dua kali, meski dampaknya juga juga sudah sangat terlihat ketika tidak diberikan lagi, yakni burung terlihat sakit2-an ) maka rawat saja menyerupai biasa dengan Full-EF.

EF apa saja yang didoyani si burung. Kalau suka kroto, ya full kroto. Kalau suka jangkrik, ya full jangkrik. Jika masa itu sanggup terlewati hingga masa ngurak dan mabung, maka ada kemungkinan burung Anda sudah terbebas dari ketergantungan obat.

Semoga bermanfaat.
loading...

Archive