Menghindari Memelihara Murai Kerikil Dan Kacer Berbarengan: Antara Mitos Dan Fakta

Sebagai seorang pemain yang suka pada jenis murai batu, D'Yan punya puluhan murai lomba yang didapatkan di lapangan baik lomba di Bali maupun di Jawa. Meski di rumahnya di Mengwi Badung banyak burung lomba, termasuk murai yang diternak, ternyata tidak mengurangi jago-jagonya tampil di lapangan. Bahkan belakangan seringkali borong juara I dan runner up alasannya sering menurunkan dua andal sekaligus.

“Memang cukup repot kalau punya banyak murai di rumah. Agar tampil, satu-satunya jalan harus diasingkan,” papar Wayan Sumiarta.

Bagaimana mengkondisikan begitu banyak murai di dalam rumah semoga tetap sanggup tampil maksimal di lapangan, D’Yan cuma punya satu cara dengan jalan tidak mempertemukan antara murai.yang satu dengan yang lain selama di dalam rumah. Bahkan, anakan murai semenjak piyik sudah tidak dipertemukan antara anakan satu dengan dengan yang lain. “Dalam setahun belum tentu bertemu,” papar D’Yan.

Murai yang disangkar dalam kondisi dikerodong hanya dikelilingi burung master saja. Karena punya aksara tempur yang kuat, jikalau memelihara murai kerikil sebaiknya tidak memelihara jenis burung fighter yang lain ibarat kacer atau tledekan. Dua jenis ini akan sanggup melemahkan daya tempur murai. Tetapi lebih berbahaya dari itu, bunyi kacer atau tledekan akan sanggup masuk ke lagu murai sehingga lagu murai tersebut tidak dahsyat lagi.

“Karena itu, aku tidak memelihara kedua jenis burung ini,” papar D’Yan.

Khusus burung yang akan dikondisikan untuk lomba, selain selama di rumah selalu berbaur dengan beberapa murai yang lain walaupun tidak saling bertatap wajah namun seminggu sebelum turun lomba tetap mesti diungsikan ke lokasi yang tidak sanggup mendengar sama sekali bunyi murai.

Selama ini, D’Yan selalu mengkondisikan murai yang akan segera diturunkan dengan menitipkan di rumah lain selama seminggu dan dijemput ahad pagi lanjut ke lapangan. Dengan cara mengasingkan ke daerah yang sepi, murai tersebut tampak bekerja lebih ngotot dari awal hingga akhir. Isian-isiannya pun juga sanggup seluruhnya dikeluarkan.

Berbeda dengan murai yang tidak diasingkan, dan dibiarkan di rumah yang sekelilingnya masih terdengar sayup-sayup bunyi murai, saat turun lomba, seringkali ngetem dan seperti ada tanda malas untuk berbunyi. Padahal burung tersebut sudah sering kali juara I dan tergolong stabil.

“Setiap aku tidak ungsikan, selalu penampilannya berkurang, tidak ngotot lagi,” kata D’Yan
loading...

Archive