Metode Penjinakan Burung Ala David De Souza

Bagi penggemar murai watu yang sering berselancar di dunia maya, tentu mengenal nama David de Souza. Maestro murai watu (MB) asal Singapura ini bukan sekadar penangkar, tetapi juga mau membuatkan ilmu dalam perawatan dan penangkaran murai batu, dan diikuti banyak MB mania dari aneka macam belahan dunia, termasuk Eropa. Nah, kali ini kita akan membuatkan ilmu penjinakan burung bakalan atau hasil tangkapan hutan ala Om David. Burung yang dijelaskan dalam artikel ini tetap murai batu, tetapi tips ini juga dapat dicoba atau dipraktikkan pada jenis burung kicauan lainnya. Selamat menikmati.


Ilmu yang berasal dari Om David dapat dijadikan alternatif lain dalam penjinakan burung.

Sebagian besar burung bakalan dan hasil tangkapan hutan yang gres dimasukkan ke sangkar tentu mempunyai sifat liar serta takut melihat manusia. Untuk menenangkannya, dibutuhkan proses penjinakan yang bertujuan semoga burung tidak lagi takut melihat insan di sekitarnya. Hal ini untuk memudahkan perawatan harian, sehingga burung menjadi lebih cepat berkicau.

Proses penjinakan burung memang dapat dilakukan melalui aneka macam metode. Salah satunya ialah menggantung burung di daerah ramai, semoga burung terbiasa dengan keramaian. Metode inilah yang paling umum dipakai kicau mania di Indonesia. Tetapi, tidak semua burung tangkapan hutan dapat dijinakkan dengan cara tersebut. Sebab huruf individu ( bukan huruf spesies ) burung berbeda-beda.

Ini sama ibarat pembinaan kepribadian pada manusia. Dalam satu kelas, yang semua siswanya pemalu, trainer akan memberi pembekalan untuk menciptakan semua penerima dapat menghilangkan tabiat pemalunya. Hasilnya, ada siswa yang dalam waktu 1 bulan dapat berubah, tetapi ada juga yang membutuhkan waktu lebih usang lagi. Juga sama ibarat pembinaan bawah umur nakal, di mana sebagian dapat disembuhkan dalam waktu singkat, sebagian lagi butuh waktu lama.

Burung pun demikian, tidak peduli apakah ia seekor murai batu, kacer, pentet, dan sebagainya, juga demikian. Setiap individu murai watu mempunyai huruf yang tidak selalu sama dengan individu murai watu lainnya. Ketika diberikan terapi pengantangan di daerah ramai, ada burung bakalan yang dalam beberapa ahad kemudian dapat jinak dan terbiasa dengan keramaian. Tetapi ada juga yang tetap menabrak-nabrak jeruji sangkar.

Karena itulah, diharapkan alternatif lain, salah satunya mengadopsi apa yang selama ini dipraktikkan Om David de Saouza.

Pemanfaatan Kandang Aviary

Dalam metode ini, Om David memanfaatkan sangkar aviary untuk menjinakkan burung bakalan atau burung yang masih liar, baik itu murai batu, kacer, pentet, cucak hijau, dan sebagainya. Kandang aviary tidak perlu terlalu luas, dan dapat diletakkan di dalam atau di luar ruangan. Tinggi sangkar diusahakan minimal 1 meter, semoga burung lebih leluasa mencari posisi yang lebih tinggi.

Ketika dimasukkan dalam sangkar aviary, burung bakalan biasanya akan terbang ketika melihat manusia. Ia akan terbang dan menjauhi manusia, dan pilihannya ialah menclok ke tenggeran yang tertinggi. Sambil bertengger, ia akan melihat insan yang mendekatinya.

Semua itu sulit dilakukan kalau kita hanya memakai sangkar harian. Pada tahap awal penjinakan di sangkar harian, burung yang masih takut melihat insan akan menabrakkan dirinya ke jeruji sangkar.

Untuk mempercepat penjinakan dalam sangkar aviary, Anda dapat memakai trik makanan. Hampir semua instruktur hewan sirkus memakai trik makanan. Caranya, setiap kali Anda mendekati atau melewati sangkar aviary, jangan lupa lemparkan pakan berupa serangga ibarat jangkrik, ulat, atau serangga lainnya ke dalam kandang.

Biasanya burung masih takut. Dia akan mencari daerah aman, yaitu nangkrik di tenggeran tertinggi sambil melihat keberadaan Anda. Begitu melihat Anda sudah pergi atau menjauhi kandang, burung akan melihat serangga, kemudian turun dari tenggeran dan menyantap pakan yang Anda berikan.

Penjinakan burung murai watu dalam sangkar aviary.

Lakukan hal tersebut secara rutin, sehingga burung berani mengambil serangga dan memakannya di depan Anda. Kalau hal ini terjadi, berarti burung sudah membangun memorinya, bahwa Anda bukanlah musuh. Anda selalu tiba membawa kuliner untuknya. Bahkan, jangan marah, kalau burung menganggap Anda sebagai pengantar kuliner yang yummy untuknya (he.. he.. he..). Intinya, burung sudah tak akan takut lagi melihat kehadiran Anda.

Pada tahap berikutnya, dapat mulai dicoba memperlihatkan serangga dari tangan Anda. Apabila burung mau mengambilnya, berarti sudah waktunya Anda untuk memindahkannya ke sangkar harian. Jika belum, ya jangan dipaksakan, dan tunggu hingga burung benar-benar mau mengambil kuliner dari tangan Anda.

Tips dan trik di atas cukup efektif untuk burung bakalan yang masih berusia muda. Dalam beberapa kasus, burung bakalan yang sudah cukup umur atau renta terkadang tidak mempan menjalani metode ini. Solusinya, masukkan burung betina yang sudah jinak ke dalam sangkar aviary.

Burung betina akan menenangkan burung liar tersebut, serta membantu memperlihatkan bahwa Anda ialah majikan yang baik, bukan musuh yang patut ditakuti. Misalnya, di depan burung liar, manjakan burung betina dengan memberinya serangga dari tangan Anda.

Satu-satunya kelemahan dari metode Om David de Souza ialah tidak semua kicaumania dapat mempunyai sangkar aviary. Bukan alasannya ialah problem biaya pembuatannya, melainkan alasannya ialah tidak ada lagi ruangan di rumah untuk meletakkan sangkar tersebut. Bagaimana solusinya?

Mau tak mau harus kembali ke sangkar harian. Letakkan sangkar di atas lantai dalam posisi melekat dinding. Pastikan tidak ada kucing atau anjing yang mengancam keselamatan burung. Sangkar dikerodong atau ditutupi kertas koran pada pecahan atas, kedua sisi, dan depan. Khusus pecahan depan, buatlah lubang kecil semoga burung dapat sedikit melihat keluar.

Metode ini bertujuan memberi ketenangan dan kenyamanan pada burung (karena sangkar tertutup kerodong / kertas koran), sekaligus melatihnya menyesuaikan diri dengan keberadaan insan (melalui lubang di pecahan depan). Selama burung berada di atas lantai, lakukan trik kuliner ibarat yang dilakukan pada sangkar aviary.

Lakukan hal ini secara rutin selama beberapa hari. Jika memungkinkan, sesekali dapat juga menempelkan sangkar burung dengan sangkar burung betina yang sudah jinak. Saat kedua sangkar ditempelkan, bukalah kerodong / kertas koran pada sisi sangkar burung liar yang bersebelahan dengan sangkar burung betina.

Setelah burung terlihat mulai jinak, kerodong / kertas koran dapat dibuka secara bertahap, hingga hasilnya burung sepenuhnya jinak. Jika burung sudah benar-benar jinak, barulah sangkar digantang ibarat layaknya kita menggantang burung.

Semoga bermanfaat.
loading...

Archive