Tempat Simpan Murai BATU dg Tledekan Perlu Berjauhan: Antara Mitos Dan Fakta

Murai BATU merupakan salah satu burung ocehan kedua yang paling banyak digemari oleh kicaumania sehabis anis merah. Terbukti, di aneka macam lomba di semua blok, murai kerikil selalu dipenuhi peserta. Selain itu, hadiah yang ditawarkan oleh beberapa Even Organiser pun tidak mengecewakan gede.

Banyaknya penggemar murai menciptakan persaingan di kelas ini semakin ketat. Berbagai cara pun dilakukan oleh kicau mania semoga penampilannya tetap stabil di lapangan. Salah satunya menghindari jenis burung ocehan yang bertipe sama petarung sebab akan merusak mentalnya ketika bertarung dilapangan. Ini bukan mitos tetapi fakta.

Bagi penggemar murai sangat pantangan jikalau jagoannya harus bertemu dengan tledekan dan kacer, bahkan dengan murai kerikil sendiri ketika dalam perawatan kesehariannya. Hal ini harus dihindari oleh mania murai kerikil sebab burung ini mempunyai tipikal yang sama yaitu petarung.

Bila bertemu dengan salah satu jenis burung tersebut, ibarat tledekan maka akan terjadi pertarungan yang bisa mengganggu kondisi fisiknya. Sebab kedua burung ini akan terus bertempur dengan mengeluarkan bahan lagu disertai tembakan-tembaknnya ibarat layaknya ketika berlomba.

Begitu pun dengan kacer. Burung yang sama-sama bertipe petarung ini juga dihentikan bertemu atau berdekatan harus terpisahkan dari jenis burung tempur. Kemudian jikalau berdekatan atau bertemu bukan mustahil pertarungan pun akan terjadi dengan sendirinya. Masing-masing jenis burung tersebut, bertipikal sama dan akan mengeluarkan seluruh kemampuannya dan bahan lagu dan isiannya.
Murai BATU

Jarak jauh

Sedangkan untuk murai kerikil sendiri, jenis ocehan ini jikalau jaraknya berdekatan niscaya akan bertempur. Sejauh ini para penggemar ocehan yang mengoleksi burung bertipikal petarung sudah sanggup dipastikan disimpan di daerah yang jaraknya berjauhan atau betul-betul kondusif dari burung yang mempunyai daya fighter yang kuat.

Hal ini pun dilakukan oleh H Memey, kicau mania asal kota resik Tasikmalaya yang mengoleksi beberapa murai kerikil yang cukup mapan di pentas perkicauan nasional. Sebut contohnya Hipnotis, Bionic, Pele dan Bogel. Burung-burung berkelas milik H Memey ini penampilannya di arena lomba cukup meyakinkan.

Bahkan, nama-nama burung H Memey ini kerap meraih gelar juara di aneka macam lomba di Jawa Barat. Bagi H Memey yang perawatan burungnya diserahkan penuh kepada Ucu, murai-murai jawaranya beserta kacer jagoanya disimpan di daerah yang berbeda-beda dengan jarak yang cukup jauh dari burung jenis petarung lainnya.

“Jika jaraknya berdekatan dengan burung yang bertipikal yang sama maka keduanya akan terus ngoceh. Ini akan berakibat fatal terhadap kondisi fisiknya dan irama lagu serta volume akan berkurang sebab sering mengeluarkan tenaga,” ujar Ucu.

Kalau sudah ibarat ini, berdasarkan Ucu, proses pemulihannya untuk kembali ibarat sediakala pun memakan waktu yang cukup lama. Biasanya, proses pemulihan yang ibarat ini menghabiskan waktu 2 hingga 3 bulan, yang belum tentu kondisinya bisa ibarat sebelumnya.

Dalam proses pemulihan tersebut, mandi yang biasanya seminggu dua kali, kali ini menjadi tiap hari. Sedangkan proses mandinya di sangkar umbaran dengan waktu yang tidak bisa ditentukan sesuai dengan huruf burungnya.

Pemberian x-food pun tidak ibarat perawatan yang normal, diberi jangkrik 2-2, pagi dan sore. Setelah pembelian jangkrik, rata-rata burung tersebut diberi kroto secukupnya.

Sementara berdasarkan Budi Kipli, perawat Gobi, murai jawara milik Yadi Suzuki Team Cirebon, juga beropini senada. Idealnya, murai harus dipisah dari burung fighter lain terutama kacer dan tledekan, apalagi burung sejenis.

Ini bertujuan semoga figther murai bisa tetap stabil ketika dibawa kelomba. “Kondisi ini juga harus didukung dengan pengaturan jarak lomba ke lomba berikutnya, dua ahad sekali,” ujar Budi, yang gres saja mengantarkan Gobi merebut juara II, I dan II di Ancol, Minggu (13/2) lalu.

Selain itu, untuk menjaga stabilitas fighter, murai harus diisolir ketika di lapangan, disiasati dengan menyimpan burung di mobil, memberi musik dengan volume cukup keras semoga bunyi buurng lain tidak terdengar.

Cara ini harus diiringi penempatan kendaraan beroda empat di daerah yang teduh atau rindang untuk menghindari hawa panas, atau bisa juga dengan cara menghidupkan AC mobil, ibarat yang dilakukannya kepada Gobi.
loading...

Archive