Mengenal Pesaing Branjangan Dari Negeri Seberang


Semakin sulitnya kicaumania mendapat burung Branjangan (Mirafra Javanica) idamannya, yaitu Branjangan Jawa, banyak yang beralih ke burung kerabat Branjangan yang tiba dari negeri seberang di antaranya Pailing, Sanma, dan Sonca.

Burung-burung Branjangan impor yang sudah mulai gampang ditemui di pasar burung ini menjadi pilihan sebab kemampuan berkicaunya tidak kalah dengan Branjangan dalam negeri. Meski tidak terdapat kelas khusus di lomba-lomba burung berkicau, namun Branjangan impor ini bisa diikutsertakan dalam kelas Campuran Import jikalau dibuka kelasnya.

Selain kicauannya yang merdu, Branjangan impor ini juga mempunyai gaya eksotis dikala berkicau. Ditambah lagi untuk perawatannya juga bisa dikatakan cukup gampang tidak jauh berbeda dengan perawatan burung Branjangan dalam negeri. Sehingga tidak salah jikalau Branjangan-branjangan impor ini sangat manis untuk dijadikan burung masteran burung-burung maskot menyerupai Murai Batu, Kacer, Cucak Ijo, dan lain-lain.

Nah, kali ini Rubrik KM akan membahas Branjangan impor supaya para kicaumania memahami dan mengenali menyerupai apa itu burung Pailing, Sonca, dan Sanma supaya lebih semangat dalam merawatnya dan berhenti berburu Branjangan dalam negeri yang semakin punah di habitatnya.


Pailing (Melanocorypha mongolica)

Pailing di dunia internasional dikenal dengan nama mongolian lark (Melanocorypha mongolica) yang termasuk dalam keluarga Alaudidae. Pailing hanya bisa ditemukan di China, Mongolia, dan Russia. Mirip dengan burung Branjangan dalam negeri, Pailing mempunyai warna bulu coklat dengan motif batik dengan garis hitam melingkar pada serpihan dadanya. Perbedaannya, badan Pailing lebih besar daripada Branjangan. 

Pailing juga dikenal sebagai salah satu burung yang bakir memalsukan bunyi burung lain dengan sempurna. Keistimewaan lain yang membedakannya dari burung lain ialah bisa memanjangkan lehernya jikalau mencium sesuatu yang mencurigakan.

Paling bisa terbang secara vertikal dengan ketinggian mencapai puluhan meter dari atas permukaan tanah. Burung ini juga bisa berkicau sambil terbang naik turun secara vertikal dengan menghentakkan sayapnya selama 1 jam penuh. Gaya itu dilakukannya untuk memberitahukan kepada burung homogen atau burung lain bahwa wilayah tersebut ialah wilayah teritorialnya.

Jika ingin memelihara burung ini, dianjurkan memelihara dikala burung masih muda Atau masih anakan. Sebab jikalau membeli hasil tangkapan muda hutan (MH), maka proses penjinakan membutuhkan waktu lama, bahkan harus menunggu 8-12 bulan supaya burung rajin berbunyi atau gacor.

Di kalangan kicaumania, ada tiga jenis burung lark ini yang beredar di pasaran yaitu Mongolian lark (ML) dengan nama spesies Melanocorypha mongolica,. Tibetan lark (TL) dengan nama spesies Melanocorypha maxima, dan Calandra lark (CL) dengan nama spesies Melanocorypha calandra.

Pailing yang pernah popular di Indonesia pada abad 1990-an ialah jenis ML. Tetapi seiring waktu, beredar pula CL dan TL dengan penampilan yang hampir mirip. Ketiga spesies ini mempunyai kemampuan berkicau yang hampir sama, bisa bersuara ngeroll , lantang, dan penuh isian


Sanma (Alauda Gulgula)

Sanma merupakan sekelompok burung yang berada dalam keluarga lark (Alaudidae), dengan genus Alauda. Sanma yang paling dikenal kicaumania dalam negeri ialah Sanma oriental atau oriental skylark (Alauda gulgula). Disebut skylark dalam literatur perburungan internasional sebab burung ini sering terbang di langit.

Sanma merupakan kerabat bersahabat Branjangan dan Pailing. Mereka mempunyai aksara yang hampir sama. Ketiga spesies ini juga sama-sama tidak mempunyai kemampuan mencengkeram secara baik, cara berjalan menyerupai ayam. Karena itulah, kandang burung Sanma, Branjangan, dan Pailing tidak memakai tangkringan, melainkan memakai tenggeran bulat yang disangga tiang kecil.

Gaya berkicaunya juga hampir mirip, yakni hovering (gaya terbang vertikal dari atas ke bawah), ngleper (kedua sayap digetarkan dikala berkicau), dan bisa bersuara ngeroll , lantang, dan penuh isian. 

Di kalangan kicaumania, ada tiga jenis burung lark ini yang beredar di pasaran yaitu Sanma Oriental atau Oriental Skylark (Alauda gulgula), Sanma Eurasia atau Eurasian Skylark (Alauda arvensis), Sanma Jepang atau Japanese Skylark (Alauda japonica), dan Sanma Raso Raso Lark (Alauda razae).

Keempat spesies Sanma ini bahwasanya sama-sama mempunyai performa bunyi yang bagus, namun sebagian besar kicaumania beranggapan dari empat jenis tersebut, Sanma Eurasia mempunyai kualitas bunyi terbaik. 


Sonca (Chim Viet Son Ca)

Sonca atau yang biasa dikenal Branjangan Vietnam ini masih menjadi perdebatan di kalangan kicaumania Indonesia. Di vietnam, burung ini dikenal dengan sebutan Chim Viet Son Ca, terkadang ada juga yang menyebutnya Chim Son Ca, sementara di Indonesia cukup disebut Sonca.

Burung yang satu ini memang masih belum begitu dikenal di Indonesia. Selain masih jarang dijumpai, harganya juga sangat tinggi, bisa mencapai Rp5 juta per ekor.

Dibandingkan dengan dua burung di atas, Sonca merupakan yang paling menyerupai dengan Branjangan baik dalam hal fisik, bunyi maupun karakter. Hanya tubuhnya yang sedikit lebih besar daripada Branjangan lokal.

Meski mempunyai kemiripan yang paling mendekati, ternyata Sonca belum dipastikan termasuk spesies yang sama dengan Branjangan lokal, atau dari subspesies lain, bahkan atau justru merupakan spesies tersendiri. Karena jikalau Branjangan lokal yang kita kenal selama ini termasuk spesies Mirafra javanica yang terdapat 16 ras, dan tiga di antaranya terdapat di Indonesia. Sedangkan Sonca bisa jadi termasuk dalam spesies Mirafra javanica williamsoni yang wilayah persebarannya mencakup Vietnam, Myanmar, Kamboja, Laos, Thailand, serta wilayah selatan China.

Meski informasi terkait burung ini masih sedikit, namun untuk urusan kualitas kicauannya dipastikan tidak kalah dengan Branjangan, Pailing, maupun Sanma. Meski mempunyai gaya berkicau yang hampir menyerupai dengan tiga burung tersebut, namun untuk urusan kerajinannya dalam bernyanyi, Sonca ialah juaranya. Sehingga tak heran jikalau meski harganya masih sangat mahal, kicaumania tidak ragu-ragu merogoh koceknya demi mengoleksi burung asal negara tetangga ini.
loading...

Archive