Pengawasan Terhadap Binatang Tahanan Karantina

Binatang Tahanan Karantina - Sebagaimana goresan pena Penyelundupan Burung, kali ini Kami ingin menyebarkan goresan pena wacana Pengawasan Terhadap Hewan Tahanan Karantina. Dimana kasus ini bermula dari perjuangan penyeludupan oleh orang yang tidak bertanggung jawab yang memperdagangkan binatang dilindungi berupa Owa (sejenis monyet) dan Musang Bulan secara online di internet. 
Binatang Tahanan Karantina
Binatang Tahanan Karantina via youtube.com

Berdasarkan asal mua'asalnya dipastikan binatang tersebut berasal dari Dumai, Propinsi Riau, sebuah kapal ferry dari Dumai yang sandar di pelabuhan Sekupang, Batam ditemukan membawa 2 ekor musang (musang luwak, musang bulan), 2 ekor Kera (Owa dan Kera coklat). Menurut penuturan dari pihak kapal, binatang tersebut dititipkan oleh seseorang dari dumai dan akan ada yang mengambil di batam, lantaran kedatangan binatang tersebut tidak disertai dengan dokumen pendukung, baik dari karantina maupun dokumen lain maka pemasukan binatang tersebut disebut penyelundupan. Terhadap pihak penjual maupun pembeli sanggup dikenai hukuman pidana, mengusut pada UU No. 16 Tahun 1992, Pasal 31. Sehingga terhadap binatang tersebut dilakukan penanahanan oleh pihak Karantina Hewan di Batam.

Pihak pembeli yang ditunggu-tunggu tak juga muncul maka terhadap binatang yang ditahan tersebut dibawa ke kantor Karantina dan di serahkan kepada pihak terkait, yaitu BKSDA Kepulauan Riau. 

Karena hewan-hewan tersebut masih anakan yang butuh perawatan intensif, maka terhadap binatang tersebut dilakukan perawatan lebih lanjut untuk dibesarkan oleh pihak-pihak yang berkompeten dibidangnya, yaitu BKSDA yang bekerja sama dengan Taman Safari. 

Petugas Karantina
Dalam hal ini Karantina selaku pihak yang melaksanakan penangkapan maka tindak lanjutnya yaitu melaksanakan Pengawasan terhadap binatang tersebut, menurut penuturan dari seorang yang petugas Karantina Hewan di Tanjung Uban, mekanisme pengawasan sehabis diserahkan yakni hingga dengan 14 hari kerja. Namun, sebagai rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap binatang dilindungi maka Petugas Karantina Hewan di Tanjung Uban akan senantiasa melaksanakan pengawasan terhadap pemeliharaan binatang tahanan tersebut. apalagi hewan-hewan tersebut yakni binatang yang termasuk penular rabies. 

Tindakan pengawasan dan pengambilan sampel darah akan dilakukan untuk mengetahui apakah binatang tersebut menularkan rabies atau tidak, alasannya yakni Kepulauan Riau yakni propinsi yang bebas dari Rabies, sehingga pemasukan HPR ke Kepri telah dihentikan menurut Peraturan Gubernur. 

Semoga sehat dan lekas besar ya owa, simpanse dan musang... 

Kepada Sobat suaraburungkicau.com, Kami menghimbau untuk menghentikan dan turut berpartisipasi menjaga negeri dengan tidak melaksanakan jual beli terhadap binatang yang dilindungi, melaporkan binatang yang akan dilalulintaskan dari dan ke tempat lain ke petugas Karantina yang sanggup ditemui dipelabuhan maupun bandara.


Pengurusan dokumen karantina sangatlah mudah, bila pengurusan gampang mengapa anda menyelundupkan, bila anda melalulintaskan binatang tanpa dokumen maka sudah selayaknya petugas karantina bersikap tegas dengan melaksanakan penahanan.

Tags : Peraturan karantina hewan di bandara, tindakan karantina hewan, cara mengurus surat karantina hewan, karantina sapi
loading...

Archive