Jenis-Jenis Burung Elang


Elang Hitam
Dinamai demikian ialah lantaran warna bulu Hewan Peliharaan ini yang seluruhnya berwarna hitam, meski ada pula beberapa jenis elang yang lain yang juga berwarna hitam. Burung yang berukuran besar, dengan panjang (dari paruh hingga ujung ekor) sekitar 70 cm. Sayap dan ekornya panjang, sehingga burung ini tampak sangat besar bilamana terbang. Seluruh badan berwarna hitam, kecuali kaki dan sera (pangkal paruh) yang berwarna kuning. Sebetulnya terdapat contoh pucat di pangkal bulu-bulu primer pada sayap dan garis-garis samar di ekor yang sanggup terlihat ketika burung ini terbang melayang namun umumnya tak begitu gampang teramati.



Sayap terbentang lurus, sedikit membentuk abjad V, dengan pangkal sayap lebih sempit daripada di tengahnya, serta bulu primer yang terdalam membengkok khas, membedakannya dari elang brontok (Spizaetus cirrhatus) bentuk yang hitam. Elang hitam juga sering terbang perlahan, rendah erat kanopi (atap tajuk) hutan. Terdapat 2 pose terbang, ketika gliding (meluncur) dan soaring (mengintai). Saat gliding bulu paling ujung menekuk kedalam, dan ketika soaring bulu ini terbentang dan terlihat menyamping.


Penyebaran dan Kebiasaan

Elang hitam menyebar luas mulai dari India, Sri Lanka hingga Asia Tenggara, Sunda Besar, Sulawesi dan Maluku. Burung ini hidup memencar di dataran rendah, hutan perbukitan hingga wilayah yang bergunung-gunung pada ketinggian sekitar 1.400 m (di Jawa hingga sekitar 3.000 m) dpl. Memangsa aneka jenis mamalia kecil, kadal, burung dan terutama telur, elang hitam dikenal sebagai burung perampok sarang. Melayang indah, burung ini kerap teramati terbang berpasangan di sisi bukit atau lereng gunung yang berhutan. Dengan tangkas dan gampang elang ini terbang keluar masuk dan di sela-sela tajuk pepohonan. Cakarnya yang tajam terspesialisasi untuk menyambar dan mencengkeram mangsanya dengan efektif.

Sarang berukuran besar terbuat dari ranting-ranting dan dedaunan yang tersusun tebal, diletakkan pada cabang pohon yang tinggi di hutan yang lebat. Bertelur satu atau dua butir, bundar oval, sekitar 65 x 51 mm, berwarna kuning bau tanah bernoda coklat kemerahan. Di Jawa berbiak pada sekitar bulan Mei.

Elang Brontok
Elang Brontok dinamai demikian kemungkinan lantaran Hewan Peliharaan ini mempunyai warna yang berbercak-bercak (pada bentuk yang berwarna terang). Namanya dalam bahasa Inggris yaitu Changeable Hawk-eagle lantaran warnanya yang sangat bervariasi dan berubah-ubah, sedangkan nama ilmiahnya ialah Spizaetus cirrhatus.

Elang brontok berbiak di wilayah yang luas, mulai dari daerah Asia selatan di India dan Sri Lanka, tepi tenggara Himalaya, terus ke timur dan selatan melintasi Asia Tenggara hingga ke Indonesia dan Filipina.

Ekologi dan Kebiasaan
Elang brontok hanya berpasangan di animo berbiak, dan di luar waktu-waktu tersebut sering ditemukan menjelajah sendirian di hutan-hutan terbuka, sabana dan padang rumput. Burung ini menyukai berburu di tempat terbuka dan menyerang mangsanya yang berupa reptil, burung atau mamalia kecil dari tempatnya bertengger di pohon kering atau dari udara. Tidak jarang burung ini merampok kawanan ayam di pedesaan.
Di Indonesia, burung ini didapati di Sumatra, Kalimantan, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara.

Sarangnya berukuran besar, dibentuk dari ranting-ranting pohon dan dedaunan di pohon yang tinggi. Telur satu butir (jarang dua) berwarna putih dengan bintik kemerah-merahan. Di Jawa, elang brontok bersarang antara bulan April hingga sekitar Agustus atau Oktober.

Elang Jawa
Elang Jawa atau dalam nama ilmiahnya Nisaetus bartelsi yaitu salah satu spesies elang berukuran sedang yang endemik di Pulau Jawa. Satwa ini dianggap identik dengan lambang negara Republik Indonesia, yaitu Garuda. Dan semenjak 1992, burung ini ditetapkan sebagai maskot satwa langka Indonesia.

Elang yang bertubuh sedang hingga besar, langsing, dengan panjang badan antara 60-70 cm (dari ujung paruh hingga ujung ekor). Kepala berwarna coklat kemerahan (kadru), dengan jambul yang tinggi menonjol (2-4 bulu, panjang hingga 12 cm) dan tengkuk yang coklat kekuningan (kadang nampak keemasan jika terkena sinar matahari). Jambul hitam dengan ujung putih; mahkota dan kumis berwarna hitam, sedangkan punggung dan sayap coklat gelap. Kerongkongan keputihan dengan garis (sebetulnya garis-garis) hitam membujur di tengahnya. Ke bawah, ke arah dada, coret-coret hitam menyebar di atas warna kuning kecoklatan pucat, yang pada alhasil di sebelah bawah lagi berkembang menjadi contoh garis (coret-coret) rapat melintang merah sawomatang hingga kecoklatan di atas warna pucat keputihan bulu-bulu perut dan kaki. Bulu pada kaki menutup tungkai hingga erat ke pangkal jari. Ekor kecoklatan dengan empat garis gelap dan lebar melintang yang nampak terang di sisi bawah, ujung ekor bergaris putih tipis. Betina berwarna serupa, sedikit lebih besar.

Iris mata kuning atau kecoklatan; paruh kehitaman; sera (daging di pangkal paruh) kekuningan; kaki (jari) kekuningan. Burung muda dengan kepala, leher dan sisi bawah badan berwarna coklat kayu anggun terang, tanpa coretan atau garis-garis. Ketika terbang, elang Jawa serupa dengan elang brontok (Nisaetus cirrhatus) bentuk terang, namun cenderung nampak lebih kecoklatan, dengan perut terlihat lebih gelap, serta berukuran sedikit lebih kecil.

Bunyi nyaring tinggi, berulang-ulang, klii-iiw atau ii-iiiw, bervariasi antara satu hingga tiga suku kata. Atau bunyi bernada tinggi dan cepat kli-kli-kli-kli-kli. Sedikit banyak, suaranya ini menyerupai dengan bunyi elang brontok meski perbedaannya cukup terang dalam nadanya.

Penyebaran,ekologi dan konservasi
Elang Jawa, Kebun Binatang Bandung

Sebaran elang ini terbatas di Pulau Jawa, dari ujung barat (Taman Nasional Ujung Kulon) hingga ujung timur di Semenanjung Blambangan Purwo. Namun demikian penyebarannya sekarang terbatas di wilayah-wilayah dengan hutan primer dan di daerah perbukitan berhutan pada peralihan dataran rendah dengan pegunungan. Sebagian besar ditemukan di separuh belahan selatan Pulau Jawa. Agaknya burung ini hidup berspesialisasi pada wilayah berlereng.

Elang Jawa menyukai ekosistem hutan hujan tropika yang selalu hijau, di dataran rendah maupun pada tempat-tempat yang lebih tinggi. Mulai dari wilayah erat pantai menyerupai di Ujung Kulon dan Meru Betiri, hingga ke hutan-hutan pegunungan bawah dan atas hingga ketinggian 2.200 m dan adakala 3.000 m dpl.

Pada umumnya tempat tinggal elang jawa sukar untuk dicapai, meski tidak selalu jauh dari lokasi acara manusia. Agaknya burung ini sangat tergantung pada keberadaan hutan primer sebagai tempat hidupnya. Walaupun ditemukan elang yang memakai hutan sekunder sebagai tempat berburu dan bersarang, akan tetapi letaknya berdekatan dengan hutan primer yang luas.

Burung pemangsa ini berburu dari tempat bertenggernya di pohon-pohon tinggi dalam hutan. Dengan sigap dan tangkas menyergap aneka mangsanya yang berada di dahan pohon maupun yang di atas tanah, menyerupai pelbagai jenis reptil, burung-burung sejenis walik, punai, dan bahkan ayam kampung. Juga mamalia berukuran kecil hingga sedang menyerupai tupai dan bajing, kalong, musang, hingga dengan anak monyet.

Masa bertelur tercatat mulai bulan Januari hingga Juni. Sarang berupa tumpukan ranting-ranting berdaun yang disusun tinggi, dibentuk di cabang pohon setinggi 20-30 di atas tanah. Telur berjumlah satu butir dierami selama kurang lebih 47 hari.

Pohon sarang merupakan jenis-jenis pohon hutan yang tinggi, menyerupai rasamala (Altingia excelsa), pasang (Lithocarpus dan Quercus), tusam (Pinus merkusii), puspa (Schima wallichii), dan ki sireum (Eugenia clavimyrtus). Tidak selalu jauh berada di dalam hutan, ada pula sarang-sarang yang ditemukan hanya sejarak 200-300 m dari tempat rekreasi.

Di habitatnya, elang Jawa menyebar jarang-jarang. Sehingga meskipun luas daerah agihannya, total jumlahnya hanya sekitar 137-188 pasang burung, atau asumsi jumlah individu elang ini berkisar antara 600-1.000 ekor. Populasi yang kecil ini menghadapi bahaya besar terhadap kelestariannya, yang disebabkan oleh kehilangan habitat dan eksploitasi jenis. Pembalakan liar dan konversi hutan menjadi lahan pertanian telah menyusutkan tutupan hutan primer di Jawa. Dalam pada itu, elang ini juga terus diburu orang untuk diperjual belikan di pasar gelap sebagai Hewan Peliharaan. Karena kelangkaannya, memelihara burung ini seolah menjadi pujian tersendiri, dan pada gilirannya mengakibatkan harga burung ini melambung tinggi.

Mempertimbangkan kecilnya populasi, wilayah agihannya yang terbatas dan tekanan tinggi yang dihadapi itu, organisasi konservasi dunia IUCN memasukkan elang Jawa ke dalam status EN (Endangered, terancam kepunahan). Kunjungi Juga Artikel yang Ini : Burung Kenari yang Cantik Indah Menawan pula, Pemerintah Indonesia menetapkannya sebagai binatang yang dilindungi oleh undang-undang.

Catatan taksonomis
Sesungguhnya keberadaan elang Jawa telah diketahui semenjak sedini tahun 1820, tatkala van Hasselt dan Kuhl mengoleksi dua spesimen burung ini dari daerah Gunung Salak untuk Museum Leiden, Negeri Belanda. Akan tetapi pada masa itu hingga final abad-19, spesimen-spesimen burung ini masih dianggan sebagai jenis elang brontok.

Baru di tahun 1908, atas dasar spesimen koleksi yang dibentuk oleh Max Bartels dari Pasir Datar, Sukabumi pada tahun 1907, seorang pakar burung di Negeri Jerman, O. Finsch, mengenalinya sebagai takson yang baru. Ia mengiranya sebagai anak jenis dari Spizaetus kelaarti, sejenis elang yang ada di Sri Lanka. Sampai kemudian pada tahun 1924, Prof. Stresemann memberi nama takson gres tersebut dengan epitet spesifik bartelsi, untuk menghormati Max Bartels di atas, dan memasukkannya sebagai jenis elang gunung Spizaetus nipalensis.


Kunjungi Juga Artikel yang Ini : Burung Kenari yang Cantik Indah Menawanlah, burung ini kemudian dikenal dunia dengan nama ilmiah Spizaetus nipalensis bartelsi, hingga alhasil pada tahun 1953 D. Amadon mengusulkan untuk menaikkan peringkatnya dan mendudukkannya ke dalam jenis yang tersendiri, Spizaetus bartelsi.
loading...

Archive